Bayar pajak motor [lagi]

Setahun lalu saya pernah cerita tentang pengalaman membayar pajak kendaraan bermotor di ITC Depok (bagi yang belum pernah baca, silakan baca ceritanya disini).  Kali ini, saya ingin bercerita lagi tentang pengalaman kedua membayar pajak motor disana. Lho gak sama tho? Ada sedikit perbedaan disana.

Jadi begini ceritanya….

setelah telat 6 bulan, saya baru meniatkan dan memantapkan diri membayar PKB motor saya. Sebelumnya niatnya sudah ada, sejak sebelum masa pajaknya habis, namun apa daya baru bisa terlaksana beberapa hari yang lalu. Kalau dicerita sebelumnya saya membayar pajak di hari kerja, maka kemarin saya membayar di hari Sabtu, karena saya berfikir sekalian mau ke Gra*edia setelahnya.

Datang di tekape jam 10 kurang dikit lah, saat toko-toko disana sedang berbenah membuka lapaknya. Saya pikir masih sepi, saya berjalan santai ke outletnya. Ternyata saya salah sodara-sodara!!! Disana sudah penuh dengan manusia yang ingin membayar pajak kendaraan bermotor juga… Huft… untung semua keperluan sudah disiapkan, tinggal masukin saja diloket penerimaan, dan beuh… tumpukannya banyak banget coi… Bismillah saja lah…

Setelah menumpuk berkas, saya mencari-cari tempat duduk yang sekiranya masih kosong, dan bisa ditebak, tidak ad kursi yang kosong. Malah saya melihat ada beberapa bapak-bapak yang ndlosor dilantai, ya sudahlah, tunggu antrian nama dipanggil. 10 menit, 20 menit, 30 menit… belum dipanggil juga hingga 1jam lebih belum dipanggil. Wah jangan-jangan lagi dikerjain nih sama pak petugasnya.

Hingga akhirnya kurang lebih jam 11.15 nama saya akhirnya dipanggil. Alhamdulillah. Tapi eits, dipanggilnya bukan karena sudah harus bayar, tapi karena berkas fotocopy BPKP saya kekecilan. Gak kekecilan si sebenarnya. Saya cuma scan BPKP nya trus saya print di kertas A4, dan petugasnya gak mau terima. Owh… Saya diminta fotocopy lagi dengan ukuran sebenarnya. Oke, done.

Setelah itu selesai, saya diminta lagi untuk menunggu. Sekitar 20 menit kemudian, barulah saya dipanggil benar-benar untuk membayar pajak, Setelah dibayar, dibawa ke loket sebelahnya dan dapetlah bukti pajak STNK yang baru.

Sekedar tips dari saya ketika anda ingin membayar pajak motor di outlet samsat ITC Depok :

  1. Usahakan dateng di hari kerja (Senin – Jumat, kalau Sabtu penerimaan berkas hanya sampai jam 11 katanya)
  2. Dateng pagi, jam 9an atau setengah 10an lah…
  3. Parkir motor/kendaraan dilantai 1, jadi agak naik sedikit, tapi langsung dilantai tempat outletnya
  4. Siapkan berkas, kalau mau fotocopy atau print sendiri, usahakan yang tidak dipekecil. Kalau perlu jangan dipotong-potong juga (kayak KTP dan STNK)
  5. Kalau sedang menunggu, jangan jauh-jauh dari loket, karena kalau pas arena bermain sudah ON, maka suara dari speaker petugas menjadi kurang jelas,
  6. Siapkan minuman atau makanan kecil sambil menunggu

ituh….

Antara Benci dan Cinta

Kata orang, kalau sedang jatuh cinta serasa dunia milik bedua. Ketika jatuh cinta, seolah tak ada yang salah dari yang kita cintai. Coba perhatikan dengarkan semua lagu tentang cinta, mulai dari Jatuh Cinta (Titiek Puspa) hingga Sempurna-nya Andra and Thebackbone dan masih banyak lainnya. Bahkan (kata orang juga), ketika jatuh cinta, t*i kucing rasa coklat (beuh….). Tadinya terdengar lebay banget, tapi setelah dipikir-pikir benar juga. Begitulah, ketika cinta sudah membabi buta, ia telah menutup segalanya. Segala cacat dan kekurangan diabaikan karena rasa cinta telah mengalahkannya. Pun sebaliknya. Ketika rasa benci sudah datang menyelimuti hati, seolah orang yang kita benci itu tidak pernah benar dan harus selalu salah.

Rasa cinta atau suka, sangatlah manusiawi sifatnya, demikian dengan rasa benci. Rasulullah Muhammad SAW telah mengingatkan :

“Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.” HR. Muslim

Tidak hanya dalam dunia antara 2 orang lawan jenis, hal ini dapat kita perluas konteks-nya. Yang lagi ngetren dikalangan abg saat ini, sebutlah saja bunga, yang videonya dibuat sedemikian rupa, mengalahkan termeh*kme*hek atau realiaty show tahun 2000an, dimana kecintaan para abg begitu besar sehingga ditirulah semuanya. Seolah semua yand dia lakukan semuanya benar.

Atau dalam konteks yang lain lagi, di dunia perpolitikan. Saat seorang tokoh yang dikaguminya muncul, euforia-nya luar biasa. Pokoknya semua yang dilakukan tokoh tersebut baik dimatanya. Ketika ada orang yang berkomentar negatif, dibilangnya sirik lah, iri lah, gak mampu lah atau lain-lainnya. Begitu pula ketika sudah membenci seorang tokoh, semua yang dilakukannya akan terasa salah.

Makanya, seperti kata hadist nabi tadi, cintai dan bencilah orang itu dengan sewajarnya. Jadi kita dapat menyaring ketika ada informasi tentang dia, atau perkataannya atau perbuatannya, apakah sesuai dengan yang seharusnya.

#edisilamagaknulinulis

Salah Paham Kredit Syariah

Tulisan ini merupakan tulisan yang saya dapat dari http://blog.ngaturduit.com, gak sengaja nemu pas pulang kantor lagi empet-empetan di jemputan. Sengaja saya share disini biar makin banyak yang tahu aja mengenai perbankan syariah, 🙂

Ada banyak akad yang digunakan bank syariah, ada yang akad tunggal dan akad gabungan. Namun pada akad gabungan, transaksi tiap akad dilakukan secara terpisah. Sesuai prinsip syariah, tidak boleh ada dua akad dalam satu transkasi.

[salah] 1.  Kredit untuk Usaha di Bank Syariah Menggunakan Akad Bagi Hasil

Kredit usaha bank syariah tidak menggunakan akad bagi hasil (mudharabah) namun akad jual beli (murabahah). Dalam jual beli maka bank boleh mengambil keuntungan yang besarannya disepakati nasabah. Dalam keadaan apapun nasabah tetap harus membayar cicilan, berbeda dengan akad bagi hasil dimana nasabah berbagi hasil (baik untung ataupun rugi) dengan bank karena meminjamkan uang. Mudharabah di bank syariah hanya untuk akad produk simpanan bukan produk kredit.

[salah] 2. KPR Syariah Cicilannya Tetap Sampai Lunas

KPR Syariah mengenal 3 jenis akad yaitu Murabahah (jual beli), Musyarakah Mutanaqisah (Kepemilikan Bertahap) dan Ijarah Muntahia Bittamlik (Sewa dengan Pilihan Membeli). Yang dimaksudkan dengan cicilan tetap sampai lunas jika KPR yang diambil dengan akad Murabahah karena margin bank sudah disepakati di awal. Pada akad Musyarakah Mutanaqisah dan Ijarah Muntahia Bittamlik ada kemungkinan besar cicilan naik. Musyarakah Mutanaqisah besaran cicilan ditinjau kenaikannya setiap dua tahun dan dan Ijarah Muntahia Bittamlik besaran cicilan ditinjau per bulan mengikuti besaran Surat Berharga Syariah Bank Indonesia (SBSBI), penjelasannya sebagai berikut.

KPR dengan akad Jual Beli (Murabahah). Ini merupakan jenis KPR yang paling umum digunakan bank syariah karena paling mudah dipahami nasabah. Dengan konsep jual beli, bank menerapkan margin dari transaksi jual beli rumah. Besaran margin tergantung waktu pembayaran cicilan yang disepakati hingga lunas. Karena besaran margin sudah ditetapkan sejak awal maka besaran cicilan yang dibayarkan akan sama (fix) dari awal sampai lunas.

KPR akad Sewa Beli (Ijarah Muntahia Bittamlik/IMBT). KPR IMBT adalah konsep menyewa yang pada akhirnya memiliki pilihan memiliki. Jenis KPR ini mungkin lebih jarang ditemukan di bank syariah. Prinsipnya adalah sewa-beli, nasabah menyewa rumah dari bank sehingga yang dibayarkan nasabah ke bank adalah seolah-olah uang sewa rumah yang dibayarkan dalam jangka waktu yang disepakati. Setelah masa sewa berakhir maka ada pilihan agar nasabah dapat membeli rumah tersebut. Uang muka di KPR IMBT merupakan uang jaminan yang diperhitungkan sebagai tanda jadi pembelian. Artinya jika nasabah memilih tidak membeli rumah maka uang muka dikembalikan pada bank dan rumah tetap menjadi milik bank. Besaran yang sewa yang dibayarkan akan berubah-ubah mengikuti SBI Syariah.

KPR akad Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah). Konsep KPR ini adalah kepemilikan rumah secara bertahap. Jadi modelnya begini…. Bank dan nasabah bersama-sama membeli rumah, dimana kepemilikan bank akan berkurang secara bertahap seiring dengan pembayaran cicilan nasabah kepada bank.

Untuk KPR Murabahah, besaran uang muka minimal 30% dari harga rumah sedangkan KPR IMBT dan MMQ minimal 20% dari harga rumah. Bagaimana jika dilihat dari segi penalti? pada KPR syariah tidak ada penalti karena nilai transaksi sudah ditentukan di depan.

 

Sumber : http://blog.ngaturduit.com

Bayar Pajak Motor di Outlet Samsat Depok

Jpeg

Kondisi Samsat Outlet di ITC Depok

Hari Kamis pekan lalu (26/03) saya sengajakan berangkat ke kantor terlambat. Rencananya saya akan melakukan pembayaran pajak motor yang sudah jatuh tempo sejak Februari lalu, sekalian kepengen nyobain ngurus sendiri di outlet. FYI, pembayaran pajak sebelumnya, saya minta tolong temen untuk ngurusin. Waktu itu, outlet samsat nya masih di DETOS, deket tempat kerja teman itu. Dalam kondisi yang basah karena hujan deras yang baru saja mengguyur kota Depok, saya arahkan motor di parkiran dekat dengan tempat bermain anak.

Jpeg

Didekat pintu masuk inilah, motor saya parkirkan. Selanjutnya saya masuk mall ITC melalui pintu tersebut. Tadinya saya pikir saya harus mencari-cari dulu outlet samsatnya ada disebelah mana. Namun begitu masuk, sudah terlihat outlet samsatnya, walau sedikit terhalang dengan konter mainan. Gak perlu nunggu lama, langsung saya serahkan kepada petugas, berkas-berkas yang sudah saya siapkan antara lain KTP asli dan fotocopy, STNK asli dan fotocopy serta fotocopy BPKB (tadinya saya sertakan aslinya, trus bapaknya bilang suruh simpan aja, ya sud, saya ambil lagi BPKB-nya), yang kesemuanya tadi tersusun rapi dalam map, 🙂 . Jangan khawatir, apabila gak sempet nyiapin berkas dari rumah, disekitaran situ juga tersedia minimal 3 tempat fotocopy.

Sekitar jam 10.15 berkas yang saya serahkan tadi, kemudian menunggu diruang tunggu yang sudah disediakan. Tak lama kemudian (karena memang antriannya sedikit, entah karena habis hujan, kepagian, atau hal lainnya) nama saya dipanggil untuk membayar sejumlah uang sesuai pajak-nya. Setelah itu menunggu sebentar lagi dan kurang lebih pukul 10.25 nama saya dipanggil lagi untuk diserahi bukti pembayaran pajaknya beserta STNK dan KTP saya. Berarti kurang lebih hanya 10 menit proses pembayaran PKB saya. Selesai sudah… Singkat dan padat ya…, sekian laporan… 🙂

NB : Foto diambil setelah semua proses selesai…

[NatIn] Siapa Yang Salah?

Hubungan kita dengan orang lain, tidak selamanya mulus. Kadang ada gesekan atau ketidakselarasan. Bahkan, bisa sampai bertengkar segala. Anda misalnya, apakah saat ini sedang bermasalah dengan seseorang? Yang salah siapa? Dia atau Anda. Hampir bisa dipastikan kalau Anda mengira bahwa yang salah itu dia, bukan Anda. Lucunya, mungkin dia pun menilai bahwa yang salah itu Anda, bukan dia. Makanya, sampai sekarang masalah itu masih berlanjut. Meskipun kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu.
 
Andai memang dia yang salah. Lalu dia meminta maaf kepada Anda, apakah Anda memaafkannya? Ataukah sakit hati ini sedemikian kuatnya sehingga baginya; tidak ada kata maaf.Kita sering mengira bahwa memaafkan itu rugi. Padahal, apa ruginya kan? Kalau pun itu berkaitan dengan soal finansial, tidak memaafkan tidak menjadikan uang kita kembali. Lagipula, ada pahala dalam memaafkan.
 
Jangan bilang kita tidak lagi perlu pahala. Karena, pahala yang sudah kita punya pun belum tentu cukup untuk menebus dosa-dosa kita. Boleh jadi, kita merasa sudah banyak kebaikan kita. Namun kita lalai terhadap kesalahan yang kita lakukan. Sama seperti kita mengira sudah berbuat baik, padahal dimata Tuhan tidak bernilai ibadah. Kita juga bisa mengira orang lain yang salah, padahal mungkin kebalikannya. Bisa rugi banget kita.
 
Di dunia rugi menanggung kekesalan hati. Diakhirat, rugi menerima putusan Ilahi. Maka tidak penting lagi soal siapa yang salah. Yang memaafkan itulah yang paling beruntung diantara keduanya. Karena dia, memiliki sifat Tuhan Yang Maha Pengampun. Andakah orang yang beruntung itu? In sya Allah.
sumber :
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker