Ini Kisahku dan Institusiku (Bag. 1)

“Dulu aku bercita-cita
menjadi pegawai bea cukai
Berdiri tegak penuh wibawa
Tunaikan tugas yang mulia… “

Itu adalah sebait salah satu lagu wajibku saat Samapta. Tapi itu tidaklah cocok dengan gambaran diriku. Aku terlahir di Baradatu, salah satu Kecamatan di Kabupaten Way Kanan (dulu masuk Kabupaten Lampung Utara) 170 Km dari Bandar Lampung dan sejak kecil aku tidak pernah bercita-cita mejadi pegawai Bea Cukai. Bukan apa-apa, aku baru tahu apa itu bea cukai itu saat aku mengikuti program diploma I STAN jurusan Kepabeanan dan Cukai!.

Kedua orangtuaku sebelumnya adalah pedagang tempe, sampai akhirnya karena situasi yang memburuk membuat mereka harus menjadi petani walau tanpa lahan. Melihat kondisi itu, setamat SLTP aku memutuskan untuk masuk SMK dengan harapan bisa langsung bekerja. Mengingat di tempatku hanya ada SMEA, aku memutuskan merantau ke Purworejo, tempat Kakak tiriku tinggal.

Saat itu, aku ingin menjadi marconist, ya… operator radio pelayaran. Tau kan kenapa aku bercita-cita seperti itu? lagi-lagi masalah ekonomi. Namun sayangnya, itu baru ada di sekolah swasta, yang notabene biayanya juga tidak sedikit. Akhirnya aku harus berdamai dengan diriku dan akhirnya memilih jurusan listrik, dan masuklah aku ke SMK Negeri 1 Purworejo. Awalnya jurusanku diplot untuk mempelajari listrik rumahtangga, namun apa daya, sepertinya lagi-lagi aku harus menerima takdir bahwa jurusan itu belum mendapatkan restu dari Kementerian Pendidikan pada saat itu.

Selepas SMK, merupakan petualangan baruku. Aku sama sekali tidak berminat meneruskan pendidikanku, karena sadar akan kondisi ekonomi keluarga. Walaupun ada beberapa tawaran untuk kuliah ke Jogja melalui jalur PMDK. Aku pun hijrah ke tempat Kakakku di Serang, Banten. Disanalah aku memulai menjadi buruh di sebuah pabrik, dibagian elektrikal. Sampai akhirnya kabar itu dating. Ya, salah satu kerabat jauhku yang sudah lulus dari STAN dan penempatan di DJP memberikan informasi bahwa STAN sedang membuka pendaftaran termasuk lulusan STM yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi lulusan SMA dan SMEA Akuntansi. Dan tahukah kalian, bahwa aku tidak punya pilihan lain selain jurusan Kepabeanan dan Cukai, karena pada saat itu, lulusan STM hanya bisa memilih jurusan ini.

Aku tertarik untuk masuk sekolah ini karena GRATIS. Akhirnya kuberanikan diri mendaftar dengan di antar Saudara Jauhku tadi. Saat aku mendaftar, dia rela membelikanku perlengkapan tes plus soal-soal latihan agar aku bisa belajar, karena memang sudah hampir satu tahun aku bekerja sehingga praktis tidak pernah belajar lagi. Selesai mendaftar, aku kembali ke Serang, untuk kembali bekerja sembari menyiapkan mental untuk mengikuti tes.

gambar diambil dari sini

Waktu ujian tiba, dengan diantar oleh Saudara jauh lainnya, aku berangkat pagi-pagi sekali dari Pondok Cabe (tempat saudaraku itu) ke Gelora Senayan. Awalnya, melihat puluhan ribu orang yang mengikuti tes masuk STAN itu, aku merasa tidak percaya diri. Tapi aku teruskan langkahku dengan banyak berdoa semoga saja saya bisa lulus.

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *