Lari Jelajah Desa (Hutan!!) 2019

source : https://lajelsa.com

TaqdirNya-lah yang membawaku ke event ini. Event yang dilaksanakan di Madiun, yang saya sendiri belum pernah mengunjunginya. Karena jauh, sayang kalau hanya ambil jarak yang 12k, akhirnya pilihan jatuh pada jarak 25k. Saya pikir rutenya biasa, naik turun kampung (karena rumah di Lampung juga masih kurang lebih seperti itu) PD aja.

minjem gambarnya ya mas feris, 🙂

Hari Sabtu datang, ambil racepack, ada yg unik, tas yang dipake adalah tas khas ibu ibu kalau ke pasar, produksi pengrajin lokal. Tapi isinya minimalis, hanya BIB gak pake chip (bahannya dari kertas biasa, punyaku sobek pas dipake race), kaos lari, kumpulan voucher dan air mineral gelas. Tanpa ada racemap. Setelah tanya panitia, mereka sendiri tidak dikasih tau rute nya, surprise-lah, katanya. Tapi, pada saat itu baru saya tau kalau untuk 25k, 90%nya adalah rute trail. Waduh…. Di web tidak disebutkan demikian, hasil googling yang saya tau jalurnya masih semi trail, maka saya tidak bawa sepatu trail (emang belum punya si ?).
Hari H tiba, berangkat sama mas @gunungtt_bc18 jam 5 lewat dikit dari Kota Madiun. Sampe di tkp udah hampir jam 6, saat flag off untuk yg 25k. Sempet ketemu sama mas @FerisYulianto.  Eh tapi akhirnya flag off nya diundur karena pejabat yang sedianya membuka belum datang. Daripada kelamaan, akhirnya pada jam 6.27 panitia meminta pak Kapolres Madiun untuk melepas runners 25k.

Kilometer awal aman gaes, hanya diperkampungan, naik turun kebon (orang), lewat sungai hingga ke Taman Nongko Ijo. Disini drama pertama mulai terjadi. Para pelari kencang (baca: calon podium) nyasar sehingga pelari dibelakangnya ikut nyasar. Akhirnya mbalik ke taman lagi, mereka nyasar lagi, sedangkan saya dan para pelari hobi lainnya memilih menunggu dan konfirm ke panitia. Akhirnya diarahkan ke jalan yang benar.

Drama berikutnya mulai, lintasannya tidak dikampung lagi gaes, tapi di hutan. Sampai km 6, pelari 12k dan 25k akhirnya berpisah. Pelari 25k kembali keluar masuk hutan, naik turun jalan setapak, hingga akhirnya di km 9 (WS 3). Drama berikutnya dimulai. Pelari harus naik gunung (kalo saya perkirakan kemiringannya bisa sampai 80 derajat, hampir tegak lurus. Dengan mengandalkan sisa sisa tenaga (karena nyasar dan rute sebelumnya), bagi pelari hore seperti saya, harus berhenti berkali kali untuk ambil nafas. Karena ws nya hanya air minum (curah), maka tidak sedikit pelari yang mengeluhkan kelaparan. Dan yang membuat mangkel lagi adalah ws berikutnya baru ada di km 16!.

Dari km 9 sampe km 16 itu yang rutenya saya bilang tadi. Total elevasi (kata panitia 1300, kalo menurut saya kok lebih) Mungkin panitia kesulitas menaruh ws di km antara itu karena medannya hutan wilis. Tapi kalo panitia mau kreatif sebenarnya bisa di km 9 itu dikasihnya air mineral botol buat persiapan, trus dijelasin rutenya kayak apa. Di ws km 16 juga, pelari2 terakhir udah gak kebagian air minum karena stok habis, kebayang kan?. Akhirnya ada yang minum air kali. Beneran!. Saya hanya berharap gak ada korban, soale tim medis nya juga minim.

Udah gitu setelah km 16 rutenya gak kalah menguras stamina. Sampe sampe ada pelari yang bawa pisang, dimakan sama kulit kulitnya ?. Terus ada juga yang makan singkong mentah, makan jagung mentah, hanya untuk menambah asupan energi karena di ws isinya hanya air minum. Saya aja mampir buang air kecil warnanya sudah kuning pekat, nyaris dehidrasi. Kaki udah gak bisa dipake lari. Pokoke jalan terus. Di KM 24 ada adik-adik kecil ngasih buah kakao mateng, lumayan buat rasa-rasa setelah isi air putih doang, hehehe.

Dan baru finish setelah 6 jam 23 menit, 7 menit sebelum COT. Medalnya unik si, klunthungan sapi, tapi tidak bisa mengurangi kekecewaan atas race ini.

Masukan buat panitia @lajelsamadiun diawal kalo mau race nya seperti ini, sebutin lah trail run, biar runners juga siap. Racemap gak perlu disembunyikan biar gak pada nyasar (info yg 12k juga kesasar). Sediakan banyak ws dan beberapa titik perlu ws yg dilengkapi dengan buah (pisang kek atau semangka) buat nambah tenaga. Owh ya, refreshment nya juga ditambah, jangan air mineral ama jeruk doang. Finisher tee? Entah gimana kabarnya. Owh ya, BIB nya pake yang chip dong biar gak ada keributan lagi waktu penentuan juaranya.

Selesai lomba, mau balik ke kota Madiun di tinggal shuttle lagi (shuttle hanya 2, berangkat jam 12 dan jam 13), duh jan…. akhirnya sama beberapa orang dibantu sama panitia nyarter mobil. Selesai race saya masih anyang-anyangen ?.

Secara pribadi sebenarnya rute-nya ok, asal dari awal sudah diberitahu medan-nya, marshal yang mencukupi serta waterstastion dan medis yang memadai, saya yakin bisa menjadi event yang diperhitungkan. Pelajaran terpenting bagi saya pribadi di event ini adalah saya bisa bertahan di COT 6,5 Jam… lumayan buat persiapan PSBM 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *