(mungkin juga) salah kita

Macet!. Jakarta gak lepas dari fenomena itu. Setiap hari, entah pagi, siang ataupun malam. Banyak hal penyebabnya. Ketika macet terjadi, sering kita menggerutu, “wah, ini pasti angkot/bus yang berheneti sembarangan nih”, “ini karena pengendara motor yang ugal-ugalan nih”. Tapi sadarkah kita, kalau kita tarik ke belakang, macet ini mungkin juga salah kita. Kita yang enggan berjalan sekian ratus meter menuju halte, kita yang lebih senang berdiri diperempatan menunggu angkutan. Atau bagi kita yang naik motor, karena enggan memutar jalan yang agak jauh, kita akhirnya berbalik di tempat yang seharusnya dilarang.

Pun demikian dengan banjir. (mungkin juga) salah kita!. Kita yang enggan membuang sampah pada tempatnya, kita yang enggan mebersihkan lingkungan kita, dan kita yang merasa cukup bangga dengan kehidupan kita tanpa memperhatikan lingkungan sekitar kita.

Mungkin kita berpikir, “apalah artinya kalau cuma saya ini, tidak akan efeknya terhadap kemacetan ataupun banjir yang ada”. tapi sadarkah kita, jika semua orang berpikiran yang sama, bukankah itu mungkin terjadi?. Alkisah pada jaman kekhalifahan (saya lupa namanya), bahwa setiap kepala keluarga yang ada diwajibkan mengumpulkan satu sendok madu dalam suatu bejana. Dalam fikiran seorang kepala keluarga, karena enggan menyerahkan madu, akhirnya dia gantikan madu itu dengan air. dia berpikir, “toh khalifah tidak akan tau kalau saya tidak menyerahkan madu, yang penting saya terlihat membawa sendok berisi dan menumpahkannya ke bejana itu”. Tapi apa yang kemudian terjadi? Semua ternya berpikiran sama dan yang terkumpul bukanlah madu tapi air!.

Teman, semoga kisah singkat diatas mampu menjadi kaca buat diri kita.
Apakah selama ini kita berbuat demikian?
Manusia tidaklah sempurna, pasti memiliki kesalahan. Tapi manusia yang cerdas, salah satunya adalah manusia yang mampu belajar dari masa lalunya, agar di kehidupan mendatangnya menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *