Bayar Pajak Motor di Outlet Samsat Depok

Jpeg

Kondisi Samsat Outlet di ITC Depok

Hari Kamis pekan lalu (26/03) saya sengajakan berangkat ke kantor terlambat. Rencananya saya akan melakukan pembayaran pajak motor yang sudah jatuh tempo sejak Februari lalu, sekalian kepengen nyobain ngurus sendiri di outlet. FYI, pembayaran pajak sebelumnya, saya minta tolong temen untuk ngurusin. Waktu itu, outlet samsat nya masih di DETOS, deket tempat kerja teman itu. Dalam kondisi yang basah karena hujan deras yang baru saja mengguyur kota Depok, saya arahkan motor di parkiran dekat dengan tempat bermain anak.

Jpeg

Didekat pintu masuk inilah, motor saya parkirkan. Selanjutnya saya masuk mall ITC melalui pintu tersebut. Tadinya saya pikir saya harus mencari-cari dulu outlet samsatnya ada disebelah mana. Namun begitu masuk, sudah terlihat outlet samsatnya, walau sedikit terhalang dengan konter mainan. Gak perlu nunggu lama, langsung saya serahkan kepada petugas, berkas-berkas yang sudah saya siapkan antara lain KTP asli dan fotocopy, STNK asli dan fotocopy serta fotocopy BPKB (tadinya saya sertakan aslinya, trus bapaknya bilang suruh simpan aja, ya sud, saya ambil lagi BPKB-nya), yang kesemuanya tadi tersusun rapi dalam map, 🙂 . Jangan khawatir, apabila gak sempet nyiapin berkas dari rumah, disekitaran situ juga tersedia minimal 3 tempat fotocopy.

Sekitar jam 10.15 berkas yang saya serahkan tadi, kemudian menunggu diruang tunggu yang sudah disediakan. Tak lama kemudian (karena memang antriannya sedikit, entah karena habis hujan, kepagian, atau hal lainnya) nama saya dipanggil untuk membayar sejumlah uang sesuai pajak-nya. Setelah itu menunggu sebentar lagi dan kurang lebih pukul 10.25 nama saya dipanggil lagi untuk diserahi bukti pembayaran pajaknya beserta STNK dan KTP saya. Berarti kurang lebih hanya 10 menit proses pembayaran PKB saya. Selesai sudah… Singkat dan padat ya…, sekian laporan… 🙂

NB : Foto diambil setelah semua proses selesai…

[NatIn] Siapa Yang Salah?

Hubungan kita dengan orang lain, tidak selamanya mulus. Kadang ada gesekan atau ketidakselarasan. Bahkan, bisa sampai bertengkar segala. Anda misalnya, apakah saat ini sedang bermasalah dengan seseorang? Yang salah siapa? Dia atau Anda. Hampir bisa dipastikan kalau Anda mengira bahwa yang salah itu dia, bukan Anda. Lucunya, mungkin dia pun menilai bahwa yang salah itu Anda, bukan dia. Makanya, sampai sekarang masalah itu masih berlanjut. Meskipun kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu.
 
Andai memang dia yang salah. Lalu dia meminta maaf kepada Anda, apakah Anda memaafkannya? Ataukah sakit hati ini sedemikian kuatnya sehingga baginya; tidak ada kata maaf.Kita sering mengira bahwa memaafkan itu rugi. Padahal, apa ruginya kan? Kalau pun itu berkaitan dengan soal finansial, tidak memaafkan tidak menjadikan uang kita kembali. Lagipula, ada pahala dalam memaafkan.
 
Jangan bilang kita tidak lagi perlu pahala. Karena, pahala yang sudah kita punya pun belum tentu cukup untuk menebus dosa-dosa kita. Boleh jadi, kita merasa sudah banyak kebaikan kita. Namun kita lalai terhadap kesalahan yang kita lakukan. Sama seperti kita mengira sudah berbuat baik, padahal dimata Tuhan tidak bernilai ibadah. Kita juga bisa mengira orang lain yang salah, padahal mungkin kebalikannya. Bisa rugi banget kita.
 
Di dunia rugi menanggung kekesalan hati. Diakhirat, rugi menerima putusan Ilahi. Maka tidak penting lagi soal siapa yang salah. Yang memaafkan itulah yang paling beruntung diantara keduanya. Karena dia, memiliki sifat Tuhan Yang Maha Pengampun. Andakah orang yang beruntung itu? In sya Allah.
sumber :
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker

Jawa, yang nampak selalu lebih hijau…

Gedung Jawa - Kantor Pusat DJBC

Gedung Jawa – Kantor Pusat DJBC

Gambar ini saya ambil pada hari Rabu lalu (18/3). Tepat setelah pengecatan atap gedung jawa (dulu dikenal sebagai gudang cukai) selesai dilaksanakan, dan kebetulan juga, ruangan saya tepat diseberangnya, sehingga lebih mudah mengambil gambarnya. Entah filosofi apa yang digunakan oleh bagian umum kantor pusat dalam pemilihan warna hijau tersebut. Saya hanya berfikir apa karena nama “JAWA” yang disandang gedung tersebut yang membuat pemilihan warna gedung tersebut, sehingga ketika melihatnya memang Jawa kelihatan hijau, yang mungkin terinspirasi dari pepatah “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”, 🙂 #ngarang

Memang, bagi sebagian besar pegawai Bea Cukai, yang notabene penempatannya seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, bekerja di pulau Jawa adalah sebuah impian. Selain karena berasal dari Jawa, keberadaan anggota keluarga yang berada di Jawa-lah yang membuat pegawai Bea Cukai menempatkan pulau Jawa sebagai home base ataupun tujuan pensiun. Termasuk saya, yang sudah menuliskan home base di Cimanggis, Jawa Barat, 😀

Terlepas dari itu semua, masing-masing orang punya penilaian dan arti tersendiri mengenai gambar di atas.

Selamat Bekerja…

Sulitnya Menjaga Konsistensi

13993328641137775654

Konsisten. Sebuah kata yang sepertinya sederhana, namun tidak mudah dalam pelaksanaanya. Seperti dalam pengelolaan blog ini. Sebelumnya saya pernah ber-azzam untuk rutin menulis, apapun itu, tak pandang bagus atau tidak, akan membuat tulisan untuk blog ini, untuk melatih konsistensi. Namun apa daya, …. saya baru teringat kembali azzam itu, setelah sekian lama saya tidak menulis. Ada banyak tantangan bagi saya dalam mencoba untuk konsisten, diantaranya kekhawatiran hasil tulisan. Yang saya tau, saya bukanlah tipe penyampai pesan yang baik, Saya lebih suka “to the point” walaupun kadang-kadang bisa sedikit mengembangkan topik utama. Benar-benar sedikit. (more…)

MENGENDALIKAN MARAH KEPADA ANAK [PARENTING]

Sebuah kultwit dari ust. Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri), patut untuk kita renungi bersama :

1| Hal yg mesti menjadi fokus orangtua adalah bagaimana melatih diri untuk bisa mengasuh anak tanpa marah

2| Tak marah bukan berarti membiarkan perilaku negatif anak. Orangtua harus tegas untuk meluruskan anak jika menyimpang

3| Rasulullah mengatakan “jangan marah” dan menjanjikan surga bagi yg bisa melakukannya tersebab perilaku marah tak pantas dibiasakan

4| Marah yg diselimuti ekspresi menyeramkan serta kasar, alih-alih membuat anak berubah, justru malah trauma yg dirasakan anak. Anak pun terluka (more…)