Aku Kembali…!

Trada… setelah terbengkalai sekian lama, baru sekaranglah blog ini bisa tersentuh lagi. Sebenarnya hanya karena “malas” saja sehingga ia terbengkalai. Banyak hal sebenarnya yang ingin saya curahkan melalui blog ini, tapi ya itu tadi, tak ada alasan lain selain malas, malas dan malas.

Pengennya si terus nulis, tapi mudah-mudahan rasa malas itu tak muncul lagi, mohon dukungannya juga, 😀

Alhamdulillah Ya Rabb…

Hari ini, satu kebahagiaan lagi yang aku terima dari-Mu. Sebuah kabar yang sekian lama telah kami tunggu semasa pernikahan kami. Setelah kemarin masih H2C (harap-harap cemas -red-), akhirnya setelah dipastikan oleh dokter, rasa syukur ini tiada terhenti. Ini merupakan kado terindah yang Engkau berikan buat kami, ketika usia pernikahan kami memasuki usia 2 tahun. 2 tahun bukanlah waktu yang pendek dalam sebuah penantian. Setelah usaha dan do’a yang tiada henti, akhirnya Engkau berkenan juga untuk mempercayakan amanah ini kepada kami. Ya Rabb, berikan kepada kami kekuatan untuk senantiasa bersyukur dan menjaga amanah ini.

Dalam kehidupan berumah tangga, diberikan karunia anak merupakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Ini juga sekaligus sebagai amanah dari yang kuasa untuk kita jaga. Mampukah kita? tergantung dari keikhlasan juga kemampuan kita untu menjaga amanah tersebut. Karena tidak sedikit pula yang dari sekian lama kehidupannya berumah tangga belum diberi amanah keturunan, namun banyak pula yang diberikan keturunan tapi malah di sia-siakan, dibuang, bahkan dibunuh.

Keadaan emosional dari masing-masing kitalah agaknya yang membedakan tingkat pemahaman kita mengenai apa yang telah Allah berikan kepada kita. Jika kita menganggap itu hal yang biasa maka rasa atau taste memiliki akan biasa pula (maaf jika pemilihan katanya kurang pas, :>). Jika kita merasa keturunan itu adalah amanah, maka kitapun akan berupaya untuk menjaga amanah itu dengan baik, karena pasti Allah akan meminta pertanggungjawaban kita atas setiap amanah yang telah ia berikan kepada kita.

Ya rabb… Syukur ini tiada terhenti. Pinta kami, berkahilah kehidupan kami, jadikanlah ia penyejuk jiwa kami, pengingat kami pada-Mu. Ya Rabb, berilah kami kekuatan untuk menghadapi kehidupan ini. Berilah kami keikhlasan dalam mengemban setiap amanah dari-Mu…
Ya rabb… terima kasih kami atas segala karunia-Mu…
Terima kasih istriku, yang telah setia menjadi pendamping terbaik dalam hidupku. Semoga kehadiran ‘orang ketiga’ dalam biduk rumah tangga kita akan membuat keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah.

Catatan : ini ditulis ketika dokter telah menyatakan istriku telah mengandung…

Kesempatan

Orang bijak pernah membagi tiga jenis manusia.

Pertama, manusia bodoh, yakni mereka yang selalu melalaikan dan mengesampingkan setiap kesempatan yang ada.
Kedua, manusia baik, yakni mereka yang selalu mengambil kesempatan yang datang kepadanya.
ketiga, manusia bijak, yakni mereka yang selalu mencari kesempatan yang memungkinkan dirinya untuk terus berkembang tanpa harus menunggu.

Lantas, dimanakah kesempatan itu? diluar atau didalam diri?

kesempatan sebenarnya bukan berada diluar diri manusia. Kesempatan yang hakikijustru berada dalam diri individu tersebut.Artinya, respon kita terhadap peristiwa yang terjadi, akan menggiring pemaknaan pada kitaapak itu kesempatan atau bukan.

Proses pemaknaan dan mengambil kesempatan atau peluang tidak semata-mata ditentukan oleh jenjang pendidikan atau jabatan, melainkan melalui cara kita memandang. Oleh karena itu, dalam kenyataanya ada dua jenis manusia yang dapat memaknai fenomena yang ada sebagai suatu kesempatan, yakni opportunist atau adventurer.

Disebut opportunist manakala orang-orang tersebut memanfaatkan kesempatan dengan niat yang tidak tulus, bahkan cenderung mengorbankan orang lain. Sebagai contoh kongkrit, ada banyak peristiwa dimana orang memanfaatkan kesempatan untuk menjarah barang-barang orang yang mengalami kecelakaan, sementara si pemilik sedang sekarat.

Sebaliknya, mereka yang mampu memanfaatkan kejadian yang ada sebagai sarana untuk membangun dirinya dan orang lain bahkan tempat bekerjanya mereka itulah yang disebut kaum adventurer. Mereka bahkan melihat apa yang tidak mungkin dimata orang lain menjadi mungkin. Ada pepatah didunia keirausahaan yang mengatakan “Ribuan orang melihat apel jatuh, namun hanya Isaac Newton yang berkata : mengapa?”

Kehadiran kaum adventurer ditengah-tengah lingkungan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain untuk mengembangn potensi. mereka tidak segan-segan berbagi kepada orang lain, tanpa rasa takut tersaingi atau popularitasnya akan hancur. Mereka tahu bahwa semakin banyak memberi inspirasi semakin peka pula intiusinya dalam melihat kejadian sebagai suatu kesempatan.

Kejadian boleh sama, perubahan yang terjadi dilinkungan kitapun mungkin sama. Akan tetapi untuk menjadi opportunist ataupun adventurer adalah suatu pilihan. Mari kita menjadi kaum adventurer yang memiliki pikiran selangkah lebih maju dari setiap kejadian. One stop Ahead!

sumber : Setengah isi Setengah kosong-nya Parlindungan Marpaung

(mungkin juga) salah kita

Macet!. Jakarta gak lepas dari fenomena itu. Setiap hari, entah pagi, siang ataupun malam. Banyak hal penyebabnya. Ketika macet terjadi, sering kita menggerutu, “wah, ini pasti angkot/bus yang berheneti sembarangan nih”, “ini karena pengendara motor yang ugal-ugalan nih”. Tapi sadarkah kita, kalau kita tarik ke belakang, macet ini mungkin juga salah kita. Kita yang enggan berjalan sekian ratus meter menuju halte, kita yang lebih senang berdiri diperempatan menunggu angkutan. Atau bagi kita yang naik motor, karena enggan memutar jalan yang agak jauh, kita akhirnya berbalik di tempat yang seharusnya dilarang.

Pun demikian dengan banjir. (mungkin juga) salah kita!. Kita yang enggan membuang sampah pada tempatnya, kita yang enggan mebersihkan lingkungan kita, dan kita yang merasa cukup bangga dengan kehidupan kita tanpa memperhatikan lingkungan sekitar kita.

Mungkin kita berpikir, “apalah artinya kalau cuma saya ini, tidak akan efeknya terhadap kemacetan ataupun banjir yang ada”. tapi sadarkah kita, jika semua orang berpikiran yang sama, bukankah itu mungkin terjadi?. Alkisah pada jaman kekhalifahan (saya lupa namanya), bahwa setiap kepala keluarga yang ada diwajibkan mengumpulkan satu sendok madu dalam suatu bejana. Dalam fikiran seorang kepala keluarga, karena enggan menyerahkan madu, akhirnya dia gantikan madu itu dengan air. dia berpikir, “toh khalifah tidak akan tau kalau saya tidak menyerahkan madu, yang penting saya terlihat membawa sendok berisi dan menumpahkannya ke bejana itu”. Tapi apa yang kemudian terjadi? Semua ternya berpikiran sama dan yang terkumpul bukanlah madu tapi air!.

Teman, semoga kisah singkat diatas mampu menjadi kaca buat diri kita.
Apakah selama ini kita berbuat demikian?
Manusia tidaklah sempurna, pasti memiliki kesalahan. Tapi manusia yang cerdas, salah satunya adalah manusia yang mampu belajar dari masa lalunya, agar di kehidupan mendatangnya menjadi lebih baik.

Setengah Isi Setengah Kosong

Seorang staf muda bagian promosi produk pakaian dalam wanita diminta oleh pimpinannya untuk melakukan survey pasar dilokasi suku pedalaman. Hal ini dilakukan untuk melihat kemungkinan ekspansi di sana. Hari pertama di lokasi membuatnya frustasi karena melihat hampir semua wanita suku pedalaman itu tidak menggunakan pakaian, apalagi pakaian dalam. “Tidak mungkin melakukan ekspansi ke tempat ini!”, katanya mantap, lalu iapun pulang ke kantor pusatnya.

Si pimpinan tidak percaya dan mengirim staf muda lainnya untuk mencari pendapat kedua. Begitu tiba dilokasi, si staf muda tadi langsung terperangah menyaksikan ada banyak wanita suku pedalaman tidak mengenakan pakaian dalam. “Ini kesempatan emas, justru dengan ekspansi pasar membuat mereka semakin beradab!”, sergahnya dengan penuh optimisme. Iapun segera menghubungi kantor pusatnya menginformasikan bahwa ada ladang baru yang harus digarap.

Dua orang yang berbeda, namun dari latar belakan perusahaan yang sama dan melihat situasi yang sama, namun memiliki cara pandang yang berbeda. Satu optimis dan yang lainnya pesimis. Perubahan situasi pasar dan lingkungan bisnis membuat setiap individu meresponi dengan cara yang berbeda pula.

Mutasi yang mendadak dari kantor pusat ke daerah, terkadang memunculkan pikiran bahwa ini adalah akhir dari segala-galanya. Pengalihan tugas ke tempat atau unit kerja tertentu, terkadang membuat kita mengklaim diri sedang dibuang. Bahkan ketika memasuki usia pensiun, sering direspon sebagai malapetaka yang besar, karena ada bagian dari dirinya yang telah hilang sama sekali. Pergumulan hidup apapun yang dialami manusia (maupun perusahaan) acapkali dimaknakan sebagi sisi gelap dari perjalanan karir dan kehidupan seseorang. Padahal pepatah bijak menyebutkan, “bukan peristiwanya yang penting, melainkan bagaimana cara kita merespon peristiwa yang terjadi tersebut yang akan menentukan kualitas diri kita”.

Satu ilustrasi dalam pelatihan motivasi yang lazim dan sering dilakukan adalah dengan mengambil sebuah gelas yang setengahnya berisi air. Setiap orang diminta untuk mengatakan apa yang dilihatnya. Sebagian mengatakan gelas itu setengah kosong dan sebagian lagi melihat gelas tersebut setengah masih berisi. Dilihat dari ‘kebenaran’ berdasarkan fakta, kedua jawaban tersebut benar. Dibalik itu semua, yang menarik adalah cara pandangnya. Coba kita perhatikan dengan seksama, mereka yang mengatakan gelas tersebut setengah kosong mengilustrasikan bahwa cara pandang yang pesimis, sedangkan yang melihat gelas tersebut setengah masih ada isinya, bahkan dengan semangat mengatakan “masih ada setengah lagi, Pak!” mengiulustrasikan cara pandang yang positif (optimis).

Ilustrasi ini dapat kita rasakan sebagai contoh ketika jam kerja menunjukkan pada pukul 15.45 WIB, dan kita diminta untuk melakukan pekerjaan tertentu. Sebagian orang dapat saja mengatakan, “Ah, tanggunglah, besok saja. Sebentar lagi juga pulang!”
Sebagian lagi justru mengatakan yang sebaliknya, “Mari saya kerjakan, mumpung masih ada waktu 15 menit lagi. Besok kita punya pekerjaan lain!”
Waktunya sama, namun cara kita memandang untuk bersikap terhadap waktu yang sisa 15 menit itu tersebut tentu berbeda-beda.

Di lain pihak, dari sisi bisnis, tentu setiap orangpun dapat melihat dari cara pandang yang berbeda terhadap situasi yang melanda perusahaan. Perkembangan perusahaan bisa bertahan (survive) dan bertumbuh (growth) atau tidak, juga bergantung bagaimana karyawan memandangnya.

Dalam kehidupan antar pegawaipun demikian. Cara kita memandang orang lain akan sangat mempengaruhi bagaimana hubungan kita dengan orang tersebut selanjutnya. Ada saja orang yang berkutat pada sisi negatif oranglain dibandingkan potensi-potensi yang masih dimilikinya. Masih ada juga segelintir orang yang lebih suka menceritakan “gelas kosong” orang lain daripada “gelas isi” dirinya. Para ahli mengatakan bahwa cara pandang ini, sangat besar dipengaruhi oleh apa yang masuk melalui pikiran. Baik itu melalui media bacaan, tontonan, maupun hasil perbincangan dengan orang lain, juga system pola asuh dirumah. Menariknya lagi, cara pandang ini tidak ada hubungannya dengan gelar yang disandang, pangkat, jabatan serta kekayaan seseorang. Semua hal ini semata-mata tergantung daripada kualitas mental seseorang.
Bagaimana “gelas” keluarga kita saat ini, bagaimana “gelas” perjalanan karir kita selama menatapi jalan-jalan menuju ke kantor, bagaimana pula “gelas” perusahaan dalam perkembangan terakhirnya. Semua tentu tidak ada yang penuh, dan pasti ada bagian-bagian yang kosong. Satu langkah yang penting untuk melaluinya dengan efektif adalah dengan memaknainya pada sisi yang masih terisi. Melalui pemaknaan yang demikianlah kita akan mampu berbuat kreatif dan berbuat banyak bagi perusahaan, keluarga, dan diri sendiri.

John Wesley pernah bertutur, “lakukan yang terbaik yang bisa Anda lakukan, dengan segenap kemampuan, dengan cara apapun, dimanapun, kapanpun, kepada siapapun sampai Anda tidak mampu lagi melakukannya”.

Sumber : Buku Setengah Isi Setengah Kosong-nya Parlindungan Marpaung
Terinspirasi saat di rolling pindah tempat tugas