Tahun Baru Harapan Baru


Hm…, tadi malam saya tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana tidak, dalam rangka menyambut tahun baru 2009, tidak jauh dari tempat kost ngadain organ tunggal. Otomatis, suaranya yang super kenceng sangat mengganggu orang-orang sekitar yang ingin istirahat. Mana lagunya dangdut semua, dah gitu yang nyanyi suaranya pas-pasan, bikin tambah boring deh. Mending aku aja yang nyanyi yak, hehehe (maap agak narsis dikit gak papa kan???). Eh lha kok malah ngomongin itu, sori kawan, yang ingin saya bicarakan sebenarnya bukan itu, hehehe.

Begini ceritanya (halah…)

Saya masih ingat ketika tiba-tiba ada namaku di skep yang dikeluarkan oleh DJBC, tempat diriku bekerja. Saat itu tanggal 05 April 2007. Sebagian besar nama-nama yang ada di SKEP tersebut dipindahkan ke Tj. Priok, yang katanya akan dibuat sebuah Kantor Pelayanan Utama. Saat itu sebagian besar teman-teman senang. Bukan apa-apa, tapi melainkan adanya harapan baru. Dengan tunjangan yang baru (seperti yang sudah disampaikan pada saat training yang besarnya sangat besar untuk ukuran kami pada saat itu) .

Dengan saat semangat dan karena memang harus segera melapor (tanggal 09 April 2007), mereka berangkat semua. Saya tidak termasuk yang berangkat tersebut. Karena tanggal 15 April 2007 saya akan menikah. Tadinya sudah mau melapor dulu, tapi mengingat biaya yang lumayan besar, akhirnya melalui kepala kantor Bitung saat itu, saya meminta dispensasi kepada kasubag kepegawaian kanwil Jakarta untuk datang terlambat. Dan saya diijinkan.

Mungkin sedikit lebih beruntung saya, karena teman-teman yang sudah berangkat ternyata juga tidak langsung ditempatkan. Mereka masih ‘lontang-lantung’ selama kurang lebih satu minggu tanpa ada penempatan yang jelas. Melalui seorang teman, saya terus pantau penempatan saya nantinya.

Akhirnya, pada tanggal 22 April 2007 saya tiba di Jakarta. Saya tinggalkan istri tercinta, guna memenuhi panggilan tugas. Pada saat itu saya langsung melapor dan langsung di perbantukan di KPBC priok II dibagian penerimaan dokumen hijau. Hingga akhirnya tanggal 01 Juli 2007 seluruh KPBC Priok di merger menjadi KPU, saya masih disitu bahkan hingga saat ini (Kabar terakhir akan saya dipindahkan kebagian dokumen reject, tapi nota dinasnya belum ditandatangani).

Bukan masalah penempatan saya yang menjadi pokok tulisan ini. Melainkan apa yang saya rasakan, perasaan kami umumnya, para pegawai KPU BC Tj Priok.
Awalnya, kami yang dengan semangat (karena sebagian besar masih muda) menapaki kehidupan di Jakarta agar lebih baik. Seperti yang saya ceritakan diatas, bahwa dengan masuk KPU, tunjangan kami akan lebih baik, lebih besar, jika dibandingkan yang non KPU.

KPU Tj. Priok merupakan pilot project dari DJBC dalam hal perubahan kinerja dan citra. Depkeu dalam hal ini DJBC ingin mereformasi diri agar menjadi lebih baik. Agar image masyarakat terhadap Bea Cukai akan berubah. Image masyarakat adalah DJBC tempat basah. Tempat yang dengan mudah mendapatkan uang. Kebanyakan sih dari uang trima kasih katanya. Dan dengan penambahan tunjangan maka para pegawai diharapkan tidak lagi menerima uang-uang tersebut. Itu salah satu tujuan awalnya dibentuknya KPU (katanya si…, lha wong saya cuma di kasih tau saat training aja).

Kembali dengan teman-teman saya tadi. Awalnya banyak yang mendukung namun tak sedikit pula yang pesimis Bea Cukai bisa. Sebagian besar mereka adalah pendatang, yang anak istrinya di kampung, sudah membuat rencana-rencana tentang pendapatan mereka di KPU. Berapa yang harus mereka sisihkan untuk keluarga di kampung, berapa untuk biaya hidup dan lain-lain. Nominal-nominal angka yang disampaikan saat training agaknya cukup membuat mereka tertarik di KPU.

Awal-awal KPU, mereka semangat. Walaupun tunjangan yang diharapakan masih belum jelas nilainya. Hampir semuanya masih idealis. Mereka mengatakan “tidak” pada saat importir atau pengguna jasa memberikan tips atau uang terima kasih. Hingga beberapa bulan, tunjangan yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan dan apa yang diharapkan. Mereka mulai kecewa (termasuk saya). Kekecewaan itu sedikit terobati, karena KPU merupakan salah satu yang pertama menerapkan sistem tunjangan yang baru yang ada di Depkeu. Dengan selisih yang cukup lumayan, teman-teman masih memiliki rasa bangga terhadap KPU.

Hingga akhirnya tak berapa lama berselang, semua tunjangan itu telah merata ke semua pegawai se-Depkeu, down sudah sebagian besar mereka. Mereka diharuskan bekerja dengan beban kerja yang tinggi dan dengan selisih tunjangan yang kecil dengan sesama pegawai di luar KPU. Belum lagi adanya Bidang KI yang senantiasa mengawasi, dan menindak pegawai yang kedapatan masih melakukan pungli. Dua hal inilah agaknya yang banyak membuat teman-teman down.

Bekerja dalam tekanan yang tinggi bukankah memerlukan pengorbanan?. Meninggalkan keluarga tercinta, perkerjaan yang tiada henti (karena pegawai yang ada dipersedikit), dan rayuan dari para pengguna jasa. Tidakkah itu suatu pengorbanan?. Harusnya wajar dong jika tunjangan mereka lebih besar, jika dibandingkan dengan teman-teman pegawai di daerah. Belum lagi biaya hidup di Jakarta. Dengan hiruk pikuk kota yang semrawut, macet dimana-mana sehingga mudah stres, tidakkah diperlukan hiburan dan refreshing?

Banyak sudah yang dilakukan jajaran elit KPU untuk menjaga spirit dari pegawainya. Beberapa kali sudah diadakan training motivasi. Tapi apa yang terjadi? Kekecewaan yang sudah tertanam sulit untuk dilupakan. Apalagi, kesenjangan tunjangan antara pegawai dan pejabat eselon sangatlah besar. Sampai ada celetukan teman “kalo mau di KPU jadi pejabat eseleon aja, tunjangannya besar!!”.

Info terakhir yang berhasil dihimpun banyak pegawai yang sudah mengajukan permohonan pindah. Tapi pasti sudah bisa ditebak apa kelanjutannya kan? Pusat tidak banyak mengabulkannya, karena apa? KARENA BANYAK PEGAWAI DARI DAERAH YANG TIDAK MAU DI TEMPATKAN DI KPU! kenapa? analisa sendirilah…

Hm…

Agaknya masalah ini masih menjadi PR besar bagi Bea Cukai. Semoga di Tahun yang baru ini, para elit yang pernah berjanji kembali terketuk hatinya untuk kembali merealisasikan apa yang sudah dijanjikannya. Dan buat temen-temen yang ngajuin pindah, semoga pimpinan mengerti dan kemudian memindahkan sesuai keinginan. Buat temen-temen masih pengin disini, semoga betah aja.

How about me?
pengennya si pindah, tapi nunggu dulu ah, barangkali tunjangan KPU jadi naek…

SEMOGA…..

Kembali Merenung

Sobat, tidakkah kau rasa bahwa usia kita semakin berkurang?.

Tak lama lagi tahun kembali berganti. Tahun 1430 Hijriah dan tahun 2008 Masehi. Usia kita memang bertambah, tapi sadarkah kita bahwasanya itu menandakan jatah umur hidup kita didunia yang sudah Allah tentukan menjadi berkurang? sadarkah kita? Bukankah Allah telah menetapkan kapan ajal kita?

Kadang kita terlupa, saat ulang tahun kita, saat akhir tahun seperti ini, kita justru bersenang-senang. Jarang sekali kita merenung. Apa yang sudah kita perbuat dan hasil apa yang sudah kita raih. Saya tidak menafikan diri bahwa saya terkadang melakukan hal yang sama, itulah manusia, yang terkadang kita sudah tau tapi kita enggan melakukannya karena godaan syaitan yang berat.

Mari kita sama-sama merenung, flashback dengan apa yang sudah kita lakukan dan kembali membuat rencana besar untuk masa mendatang.

SELAMAT TAHUN BARU, kawan….

terinspirasi dari : blog istri tercinta www.kepompongkeket.blogspot.com “tetep semangat ya sayang dan tetep menulis, kita balapan yuk.. :D, trimakasih cinta, telah menggugah kembali diriku untuk mencoba menulis” dan dari ulangtahun temenku ipank yang baik hati (besok kalo’ dah selesai cuti jadi nraktir kan?, awas kalo enggak, hehehe. Maaf kepada temen-temen semua karena baru ngeblog lagi…

Syukur

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih
(QS. 14 : 7)
Syukur. Sebuah kata yang sangat mudah diucapkan, sangat mudah dianjurkan, tetapi merupakan suatu perbuatan yang sangat sulit dilakukan.
Kenapa perbuatan? Karena sebenarnya, syukur tidaklah hanya ucapan belaka, tapi juga harus disertai dengan perbuatan-perbuatan yang mewujudkan rasa syukur tersebut. Apa yang terungkap diatas, mungkin sudah amat sering kita dengarkan. Namun sudahkah kita laksanakan?

Tiada suatupun yang menjadi sia-sia atas apa yang sudah Allah gariskan. Semua telah Allah buat sedemikian rupa. Bahkan hal yang terkecil sekalipun yang mungkin menurut kita tidak berarti. Bernafas misalnya. Kenapa yang kita hirup adalah oksigen, kemudian bagaimana paru-paru mengolah oksigen tersebut, bagaimana kemudian jantung kita memompa sel darah, dan seterusnya. Atau ketika kita bersin, berapa juta sel yang kita keluarkan ketika bersin, kenapa harus sedemikian. Sesunggguhnya jika kita mengetahui apa dan bagaimana itu, maka tidak akan berhenti lidah kita untuk mengucap Allahu Akbar, Allah maha besar,

Tapi terkadang kita lebih menyukai melihat segala kekurangan kita. Kita selalu melihat orang lain yang lebih beruntung. Pada saat itu, kita merasa sebagai orang yang tidak beruntung, yang pada akhirnya kita melupakan begitu banyak nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita. Jika kita selalu melakukan hal itu, yakinlah bahwa kita tidak akan bahagia. Kita senantiasa dirundung kegelisahan yang mengakibatkan kita tidak bias hidup tenteram.

Yang harus kita lakukan adalah lebih banyak ‘melihat’ ke bawah, yang mana ternyata amat sangat banyak orang yang tidak seberuntung kita. Jika kita saat ini bisa makan 3 x sehari, coba lihat berapa banyak orang miskin di dunia ini. Jika kita bisa tidur nyenyak dimalam hari, coba kita lihat berapa banyak penduduk dunia yang tidak bisa merasakannya akibat bencana dan perang. Jika kita sudah bekerja, coba perhatikan berapa banyak orang yang menganggur, bersusah payah mencari rezeki bahkan dengan meminta-minta, sementara kita sudah mampu memberi.

Ah.. seandainya semua kita ungkap disini, takkan cukup tulisan ini untuk menguraikan segala nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita. Dan pastinya, semakin kita banyak mengetahui nikmat Allah, kita akan semakin merasa kecil dihadapanNya. Allah tidak meminta apa-apa dari kita. Ia hanya menginginkan kita untuk bersyukur. Yap!! Bersyukur!. Walaupun dengan tidak beryukurpun, itu tetap tidak akan berpengaruh terhadap kuasaNya Allah. Sebenarnya itu semua bukan untuk Allah, tapi untuk kita sendiri. Allah malah telah menjanjikan, seperti yang ada pada surat Ibrahim : 7 seperti terkutip di atas, bahwasanya Allah akan menambah nikmatnya jika kita bersyukur dan jika kita kufur maka ingatlah bahwa Allah sangat pedih.

Lantas bagaimana bersyukur itu?. Menurut saya ada banyak macam cara yang menunjukkan rasa syukur kita. Hal yang paling mudah adalah mengucap Alhamdulillah. Hal yang lainnya adalah dengan merawat apa yang sudah Allah berikan kepada kita dengan tidak merusaknya dengan perbuatan-perbuatan kita sendiri.

So… sudahkan kita bersyukur hari ini?

Lelah

Lelah!. Entah sudah berapa kali kata itu keluar dari mulut saya. Bukan pula hanya hari ini. Saya yakin, banyak pula diantara pembaca yang merasakan hal serupa. Bisa jadi karena pekerjaan yang terus berdatangan tanpa ada jeda untuk istirahat (atau istirahatnya tidak cukup), atau pula beban pikiran yang tak kunjung hilang.

Ada kalanya memang, kita harus berhenti sebentar, untuk melepas penat ataupun refreshing keadaan yang ada, untuk selanjutnya itu menjadi ancang-ancang kita dalam keaadan selanjutnya yang akan kita hadapi. Istirahat yang cukup dan berkualitas sudah cukup membuat diri kita kembali fresh dan segar lagi. Akan tetapi, ketika pekerjaan ataupun pikiran kita terus membuat kita lelah apa yang mesti kita lakukan?

Cintai pekerjaan kita
Yap! Kadang rasa lelah atau penat itu timbul dari dalam diri kita, yang mana kita tidak menyukai dengan pekerjaan kita selama ini. Menurut orang tua saya dulu, suatu pekerjaan yang walaupun ringan maka ia akan terasa berat manakala kita mengerjakannya dengan setengah hati. Sebaliknya, seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dengan sepenuh hati, dengan penuh keceriaan maka ia akan terasa ringan.

Dari hal diatas, kiranya rasa ringan dan berat pekerjaan itulah yang membuat tubuh kita menjadi lelah secara cepat atau lambat. Jika pekerjaan kita berat (terasa berat) maka pasti kita akan mudah merasa lelah. Untuk kasus seperti ini, berapa lamapun kita beristirahat maka kita akan kembali cepat lelah. Hal ini juga biasanya dipengaruhi dengan pikiran ataupun tingkat stres kita. pun lingkungan turut mempengaruhi hal ini.

Sebagai contoh adalah diri saya sendiri. Setahun yang lalu, ketika saya masih di Sulawesi, saya merasa lebih nyaman dan bisa menikmati hidup dengan jarang mengeluh lelah karena pekerjaan tidak terlalu banyak, suasanya daerah yang cukup nyaman dan dukungan teman serta keluarga dekat. Namun ketika kini, ketika saya dipindahkan ke Jakarta, dimana tingkat pekerjaan naik tajam, tingkat stres juga tinggi ditambah keluarga yang masih di luar jawa, hmmmm… sepertinya keluhan lelah, capek, stres, selalu mendampingi saya. Walau saya telah mencoba untuk menikmati apa yang ada, namun kenyataanya, saya masih belum bisa menikmatinya.

Namun saya yakin bahwa Allah SWT sudah mengatur rencana kehidupan saya. Sekarang yang bisa saya lakukan adalah terus menjalani apa yang ada dengan apa adanya sambil mencoba menikmati apa yang ada dan mencari hikmah dari apa yang terjadi.

Be Ur Self

Allah menciptakan dan menghidupkan setiap makhluknya dengan segala sesuatu yang unik. Tak satupun dari kita sama, bahkan orang kembar sekalipun! Subhanallah…

Setiap manusia memiliki minimal satu sisi ataupun bagian yang tidak bisa ditemukan pada orang lain. Kalaupun sama pada bagian tersebut maka akan berbeda pada sisi lainnya. Itulah “mungkin” (karena aku gak tau pasti sebab turunnya ayat ini) Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dengan lainnya.

Ada hal menarik dari saling kenal ini, bahwa dengan kita saling mengenal maka kita akan tau tentang orang lain dan lingkungan diluar kita dan tanpa kita sadarai kita telah menjadi pelengkap dalam kehidupan ini. Coba kita bayangkan, seandainya Allah mencipatakan kita semua sama, tanpa ada keunikan pada tiap-tiap makhluk, maka tidak akan dinamika hidup yang bisa kita nikmati. Semua mungkin akan merasa bosan karena apa yang ada pada orang lain sama adanya dengan yang ia punyai.

Kembali pada sisi keunikan manusia, kadang atau bahkan banyak dari kita yang merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki. Banyak dari kita justru menyoroti kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita kemudian membandingkannya dengan kelebihan yang dimiliki orang lain, yang pada akhirnya menginginkan seperti apa yang dimiliki orang lain tersebut. Contoh termudah dari kasus ini adalah banyak dari kita meniru gaya baik itu model baju, tatanan rambut sampe gaya hidup sehari-hari dari orang lain (misalnya artis maupun selebriti lainnya), yang kadang malah membuat “tidak pantas” bagi diri kita.

Menurutku, yang terbaik adalah menjadi diri kita sendiri. Dengan segala sesuatu yang telah Allah ciptakan untuk kita, pastinya semua itu takkan sia-sia. Sebanyak apapun kekurangan yang ada pada diri kita, saya yakin bahwa kita masih memiliki potensi, memiliki kelebihan, yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Sekarang tinggal bagaimana kita, bisakah kita memanfaatkan kelebihan yang ada. Kekurangan diri bukan untuk disesali, diratapi atau dibenci. Kekurangan diri haruslah disyukuri, karena dibalik kekurangan itu Allah telah menciptakan sesuatu yang indah untuk diri kita, tinggal bagaimana kita bisa mencari, mengolah dan memanfaatkan kelebihan dan rahmat apa yang Allah berikan untuk kita.

So… jangan lagi kita menjadi orang lain, tapi JADILAH DIRIMU SENDIRI