Salah Paham Kredit Syariah

Tulisan ini merupakan tulisan yang saya dapat dari http://blog.ngaturduit.com, gak sengaja nemu pas pulang kantor lagi empet-empetan di jemputan. Sengaja saya share disini biar makin banyak yang tahu aja mengenai perbankan syariah, 🙂

Ada banyak akad yang digunakan bank syariah, ada yang akad tunggal dan akad gabungan. Namun pada akad gabungan, transaksi tiap akad dilakukan secara terpisah. Sesuai prinsip syariah, tidak boleh ada dua akad dalam satu transkasi.

[salah] 1.  Kredit untuk Usaha di Bank Syariah Menggunakan Akad Bagi Hasil

Kredit usaha bank syariah tidak menggunakan akad bagi hasil (mudharabah) namun akad jual beli (murabahah). Dalam jual beli maka bank boleh mengambil keuntungan yang besarannya disepakati nasabah. Dalam keadaan apapun nasabah tetap harus membayar cicilan, berbeda dengan akad bagi hasil dimana nasabah berbagi hasil (baik untung ataupun rugi) dengan bank karena meminjamkan uang. Mudharabah di bank syariah hanya untuk akad produk simpanan bukan produk kredit.

[salah] 2. KPR Syariah Cicilannya Tetap Sampai Lunas

KPR Syariah mengenal 3 jenis akad yaitu Murabahah (jual beli), Musyarakah Mutanaqisah (Kepemilikan Bertahap) dan Ijarah Muntahia Bittamlik (Sewa dengan Pilihan Membeli). Yang dimaksudkan dengan cicilan tetap sampai lunas jika KPR yang diambil dengan akad Murabahah karena margin bank sudah disepakati di awal. Pada akad Musyarakah Mutanaqisah dan Ijarah Muntahia Bittamlik ada kemungkinan besar cicilan naik. Musyarakah Mutanaqisah besaran cicilan ditinjau kenaikannya setiap dua tahun dan dan Ijarah Muntahia Bittamlik besaran cicilan ditinjau per bulan mengikuti besaran Surat Berharga Syariah Bank Indonesia (SBSBI), penjelasannya sebagai berikut.

KPR dengan akad Jual Beli (Murabahah). Ini merupakan jenis KPR yang paling umum digunakan bank syariah karena paling mudah dipahami nasabah. Dengan konsep jual beli, bank menerapkan margin dari transaksi jual beli rumah. Besaran margin tergantung waktu pembayaran cicilan yang disepakati hingga lunas. Karena besaran margin sudah ditetapkan sejak awal maka besaran cicilan yang dibayarkan akan sama (fix) dari awal sampai lunas.

KPR akad Sewa Beli (Ijarah Muntahia Bittamlik/IMBT). KPR IMBT adalah konsep menyewa yang pada akhirnya memiliki pilihan memiliki. Jenis KPR ini mungkin lebih jarang ditemukan di bank syariah. Prinsipnya adalah sewa-beli, nasabah menyewa rumah dari bank sehingga yang dibayarkan nasabah ke bank adalah seolah-olah uang sewa rumah yang dibayarkan dalam jangka waktu yang disepakati. Setelah masa sewa berakhir maka ada pilihan agar nasabah dapat membeli rumah tersebut. Uang muka di KPR IMBT merupakan uang jaminan yang diperhitungkan sebagai tanda jadi pembelian. Artinya jika nasabah memilih tidak membeli rumah maka uang muka dikembalikan pada bank dan rumah tetap menjadi milik bank. Besaran yang sewa yang dibayarkan akan berubah-ubah mengikuti SBI Syariah.

KPR akad Kepemilikan Bertahap (Musyarakah Mutanaqisah). Konsep KPR ini adalah kepemilikan rumah secara bertahap. Jadi modelnya begini…. Bank dan nasabah bersama-sama membeli rumah, dimana kepemilikan bank akan berkurang secara bertahap seiring dengan pembayaran cicilan nasabah kepada bank.

Untuk KPR Murabahah, besaran uang muka minimal 30% dari harga rumah sedangkan KPR IMBT dan MMQ minimal 20% dari harga rumah. Bagaimana jika dilihat dari segi penalti? pada KPR syariah tidak ada penalti karena nilai transaksi sudah ditentukan di depan.

 

Sumber : http://blog.ngaturduit.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *