[share] Lidah Tergigit Gigi

Kemarin, disalah satu milis yang saya ikuti, dikirim sebuah artikel yang sangat menarik yang ditulis oleh Made Teddy Artiana (http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com) dan ingin saya share disini. Selamat membaca….

*Lidah Tergigit Gigi*

Andri (bukan nama sebenarnya) adalah laki-laki yang terlahir dengan sebuah karunia khusus. Itu sedikit-banyak tercermin dari jari-jemarinya.
Ya… seandainya saja orang meluangkan waktu untuk memperhatikannya, maka siapapun akan setuju, jika jemari-jemari itu dikhususkan untuk menciptakan prakarya. Gambar pola, gunting, lem, menghias detail… printilan… tetek-bengek yang untuk sebagian laki-laki lain, mungkin merupakan pekerjaan yang menjengkelkan.

Mengenai itu, pengalaman Andri sewaktu Sekolah Dasar, menjadi kenangan kuat yang memotivasi dirinya. Waktu itu, dengan batang-batang ice menciptakan sebuah masterpiece, yang akhirnya dijual oleh sang Ibunda seharga Rp. 200.000,-. Sebagai catatan, pengaruh hantu inflasi di negara ini sama sekali tidak dapat diabaikan begitu saja, apalagi peritiwa itu terjadi 18
tahun yang lalu. Intinya, itu adalah transaksi besar! Ibunda bangga, Andripun percaya diri.

Waktu berlalu… kini, disaat Andri berusia 29 tahun. Kenangan indah itu tiba-tiba saja berubah menjadi memuakkan. Jelas, hal ini sama sekali tidak terduga sebelumnya. Senjata makan tuan.

Andri tamat kuliah, ibunda menginginkan ia bekerja sebagai karyawan bank. Tapi Andri menolak. Ia ingin berwirausaha, mengembangkan kemampuan prakaryanya, menciptakan masterpiece-masterpiece lain. Persoalannya ekonomi mereka sedang merosot. Ibunda murka, lalu pertengkaranpun terjadi. Puncaknya, ibunda menghina kemampuan prakarya Andri (satu-satunya kesaktian, yang paling dibanggakan Andri).

“Itu gak ada masa depannya!!”, “Kamu mau makan apa nanti?!!”, “Itu mainan anak SD, bukan orang dewasa!!!”, Dsb. Ujung-ujungnya Andri minggat dari rumah. Sakit hati.

Kejadian diatas sebenarnya sudah jamak terjadi. Bukan masalah enterpreneur atau karyawan. Seringkali orang-orang terdekat kitalah yang justru menjadi penghalang sebuah pencapaian.  Berikut penggalan kisah-kisah nyatanya.

“Mbok kamu ngaca Pak!! Tampang kaya kamu gak bakat sukses… gak bakat
kaya!”. Teriak seorang istri kepada salah seorang kawan kami, persis dihadapan kami. (Padahal peribahasa mengatakan, dibelakang setiap laki-laki yang hebat, ada wanita yang hebat pula. Berarti, dibelakang laki-laki gagal, ada wanita tak berguna)

“Maaf ya..anak saya ini memang agak bodoh. Gak bisa diajari. Emang dari lahirnya agak kurang”. Ujar seorang teman ketika anaknya gagal menempatkan diri dalam ranking 10 besar. (Padahal kesuksesan hidup, tidak berbanding lurus dengan ranking sekolah kita)

“Kamu urus anak aja sana. Perempuan itu kodratnya ya seperti itu : dapur, kasur, rumah. Jadi gak usah keras kepalalah. Biar kerjaan aku yang handle”. (Dalam sisi tertentu hal-hal seperti ini kadang menandakan antisipasi persaingan  yang berlebihan dari pihak suami).

Begitulah… Seringkali, yang mengigit lidah adalah gigi kita sendiri. Halangan, rintangan terhadap cita-cita, seringkali tidak datang dari jauh, namun justru dari sekitar kita sendiri. Dari orang-orang terdekat, yang justru dukungannya sangat-sangat kita dambakan.

Namun demikian…semua itu sama sekali bukan alasan kita untuk berhenti dan membuang semua mimpi. Apalagi untuk trauma. Konfrontasi? Sama saja, bukan jalan keluar yang terbaik. Karena semua pembuktian memerlukan waktu dan energi yang cukup.

Jadi itu bukan hal yang terlalu istimewa dan pantas untuk dibesar-besarkan,
karena para nabipun mengalaminya.  Nabi disambut dimanapun, kecuali ditempat asalnya. Diantara kaum keluarganya sendiri. So… gak perlu bereaksi lebay… keep working and keep smiling 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *